waktu gw lagi dengerin lagu, kaka gw ngasih denger lagu Iwan Fals yg judulna 'Celoteh Camar Tolol dan Cemar'.. Jadi katanya lagu itu punya cerita sendiri.. Waktu jaman dulu, pemerintah beli kapal BEKAS dan tu kapal BEKAS karam di laut lepas.. karena penasaran, jadilah gw meng-google tentang tragedi tersebut.. dan ketemu website ajibh ini..
buat yg males ngebuka tu website gw ringkas aja ya ceritana..
jadi tahun 1981,hari Sabtu 24 Januari sebuah kapal bernama Tampomas II berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok dan mengangkut 1054 penumpang belum termasuk penumpang gelap yg jumlahnya bisa menyampai ratusan jiwa..
tanggal 25 Januari sekitar pukul 23.00 WITa, KM Tampomas terbakar.. tapi para awak kapal hanya menyuruh supaya para penumpang jangan panik dan pergi ke atas kapal.. siang harinya api makin membesar.. KM Tampomas II akhirnya miring dan tenggelam dengan cepat.. Dari data terakhir disebutkan bahwa 753 orang penumpang KM Tampomas II berhasil diselamatkan termasuk awak kapal. Ditemukan 143 jenazah. 225 orang hilang bersama kapal, termasuk Nahkoda kapal.
Yang aneh, di saat terjadi kebakaran itu tidak ada peringatan lebih lanjut kepada para penumpang, yang ada hanyalah pesan melalui speaker supaya para penumpang pergi ke atas.. Begitu berada di bagian geladak terbuka, mereka dibiarkan mencari selamat sendiri2 tidak ada ABK yang membimbing. Bahkan beberapa ABK langsung mencari selamat sendiri dengan meluncurkan sekoci, diantaranya Mualim II dan Markonis II. Dari enam sekoci yang ada, yang masing2 berkapasitas 50 orang (!?), hanya dua buah (!!?) yang berhasil diturunkan. Yang mengherankan, dalam keadaan darurat seperti itu, KM Tampomas II sama sekali tidak melakukan kontak radio. Dibilang bahwa semua radio rusak! termasuk yang cadangan. KM Tampomas II juga tidak menyalakan lampu bahaya atau menembakkan peluru suar untuk meminta pertolongan kepada kapal2 yang ada disekitarnya. KM Sangihe yang pertama menemukan KM Tampomas II, baru mengetahui ada bahaya ketika mendengar bunyi ledakan di Tampomas II yang awalnya tidak dikenali karena tidak memberikan sapaan lewat radio. Lalu ada apa pula sampai nahkoda kapal Tampomas II sempat berteriak bahwa telah terjadi sabotase di atas kapal? Banyak pula muncul pertanyaan, mengapa kru kapal dalam pelayaran itu tidak lengkap? Hanya ada Kapten, Mualim II dan Markonis II. Mualim I dan Markonis I sedang cuti dan tidak dicarikan pengganti. Lebih parah lagi Mualim II dan Markonis II langsung kabur sendiri dengan sekoci hanya satu jam setelah terjadi kebakaran. Bahkan Markonis II dengan egoisnya membawa radio portabel ke dalam sekoci tanpa memikirkan bahwa lebih banyak penumpang di kapal yang membutuhkan pertolongan dari para penyelamat. Saksi bahkan sempat mendengar kemarahan Nahkoda Capt. Abdul Rivai yang berteriak "Kalau ketemu, saya cekik dia!".
*Ini Bagian Terkerennya Sekaligus Paling Mengharukan
Tapi yang patut diberi acungan jempol pada peristiwa ini yaitu Kapten Kapal Tampomas II ini sendiri.Capt. Abdul Rivai. Komitmen dan dedikasinya sungguh sangat menggetarkan. Dalam keterbatasannya, dialah yang paling sibuk menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, saat ABK lain malah melarikan diri pada saat-saat awal. Saat kapal sudah mulai miring, Capt. Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut. Bahkan di detik2 terakhir... saat kapal mulai tenggelam.. Capt. Abdul Rivai masih terlihat berada di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela... Benar2 seorang kapten kapal yang memegang teguh janjinya untuk menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal saat terjadi bencana. Capt. Abdul RivaiNamun malangnya, jenazah Capt Abdul Rivai sempat dikuburkan sebagai orang tak dikenal. Untunglah dari tim penyelamat ada yang teringat akan cincin bertuliskan nama Hasanah, istri Capt. Abdul Rivai, yang dikenakan salah satu jenazah tak dikenal. Jasad Capt. Abdul Rivai akhirnya dimakamkan kembali di taman makam pahlawan Kalibata Jakarta.
Aksi heroik Capt. Abdul Rivai memberikan inspirasi kepada penyanyi dan penulis lagu terkenal Ebiet G. Ade untuk menulis sebuah lagu yang didedikasikan kepada sang Kapten. Lagu itu berjudul "*Sebuah Tragedi 1981*".
Buat yang pengen baca lebih lengkap bisa ke web ini..
Ps: Mostinya nih, Indonesia bikin dong film Tragedi Tampomas.. Jangan cuman Titanic aja..^^
buat yg males ngebuka tu website gw ringkas aja ya ceritana..
jadi tahun 1981,hari Sabtu 24 Januari sebuah kapal bernama Tampomas II berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok dan mengangkut 1054 penumpang belum termasuk penumpang gelap yg jumlahnya bisa menyampai ratusan jiwa..
tanggal 25 Januari sekitar pukul 23.00 WITa, KM Tampomas terbakar.. tapi para awak kapal hanya menyuruh supaya para penumpang jangan panik dan pergi ke atas kapal.. siang harinya api makin membesar.. KM Tampomas II akhirnya miring dan tenggelam dengan cepat.. Dari data terakhir disebutkan bahwa 753 orang penumpang KM Tampomas II berhasil diselamatkan termasuk awak kapal. Ditemukan 143 jenazah. 225 orang hilang bersama kapal, termasuk Nahkoda kapal.
Yang aneh, di saat terjadi kebakaran itu tidak ada peringatan lebih lanjut kepada para penumpang, yang ada hanyalah pesan melalui speaker supaya para penumpang pergi ke atas.. Begitu berada di bagian geladak terbuka, mereka dibiarkan mencari selamat sendiri2 tidak ada ABK yang membimbing. Bahkan beberapa ABK langsung mencari selamat sendiri dengan meluncurkan sekoci, diantaranya Mualim II dan Markonis II. Dari enam sekoci yang ada, yang masing2 berkapasitas 50 orang (!?), hanya dua buah (!!?) yang berhasil diturunkan. Yang mengherankan, dalam keadaan darurat seperti itu, KM Tampomas II sama sekali tidak melakukan kontak radio. Dibilang bahwa semua radio rusak! termasuk yang cadangan. KM Tampomas II juga tidak menyalakan lampu bahaya atau menembakkan peluru suar untuk meminta pertolongan kepada kapal2 yang ada disekitarnya. KM Sangihe yang pertama menemukan KM Tampomas II, baru mengetahui ada bahaya ketika mendengar bunyi ledakan di Tampomas II yang awalnya tidak dikenali karena tidak memberikan sapaan lewat radio. Lalu ada apa pula sampai nahkoda kapal Tampomas II sempat berteriak bahwa telah terjadi sabotase di atas kapal? Banyak pula muncul pertanyaan, mengapa kru kapal dalam pelayaran itu tidak lengkap? Hanya ada Kapten, Mualim II dan Markonis II. Mualim I dan Markonis I sedang cuti dan tidak dicarikan pengganti. Lebih parah lagi Mualim II dan Markonis II langsung kabur sendiri dengan sekoci hanya satu jam setelah terjadi kebakaran. Bahkan Markonis II dengan egoisnya membawa radio portabel ke dalam sekoci tanpa memikirkan bahwa lebih banyak penumpang di kapal yang membutuhkan pertolongan dari para penyelamat. Saksi bahkan sempat mendengar kemarahan Nahkoda Capt. Abdul Rivai yang berteriak "Kalau ketemu, saya cekik dia!".
*Ini Bagian Terkerennya Sekaligus Paling Mengharukan
Tapi yang patut diberi acungan jempol pada peristiwa ini yaitu Kapten Kapal Tampomas II ini sendiri.Capt. Abdul Rivai. Komitmen dan dedikasinya sungguh sangat menggetarkan. Dalam keterbatasannya, dialah yang paling sibuk menyelamatkan penumpang lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, saat ABK lain malah melarikan diri pada saat-saat awal. Saat kapal sudah mulai miring, Capt. Abdul Rivai masih tampak sibuk membagikan pelampung ke para penumpang yang tidak berani terjun ke laut. Bahkan di detik2 terakhir... saat kapal mulai tenggelam.. Capt. Abdul Rivai masih terlihat berada di anjungan kapal sambil berpegangan pada kusen jendela... Benar2 seorang kapten kapal yang memegang teguh janjinya untuk menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal saat terjadi bencana. Capt. Abdul RivaiNamun malangnya, jenazah Capt Abdul Rivai sempat dikuburkan sebagai orang tak dikenal. Untunglah dari tim penyelamat ada yang teringat akan cincin bertuliskan nama Hasanah, istri Capt. Abdul Rivai, yang dikenakan salah satu jenazah tak dikenal. Jasad Capt. Abdul Rivai akhirnya dimakamkan kembali di taman makam pahlawan Kalibata Jakarta.
Aksi heroik Capt. Abdul Rivai memberikan inspirasi kepada penyanyi dan penulis lagu terkenal Ebiet G. Ade untuk menulis sebuah lagu yang didedikasikan kepada sang Kapten. Lagu itu berjudul "*Sebuah Tragedi 1981*".
Buat yang pengen baca lebih lengkap bisa ke web ini..
Ps: Mostinya nih, Indonesia bikin dong film Tragedi Tampomas.. Jangan cuman Titanic aja..^^
