semester 5.
dan akhirnya pikiran 'saya salah masuk jurusan' datang juga.
kalo menurut hemat saya sih (...) kira2 70 persen mahasiswa/i pernah mempertanyakan atau menyerukan atau yeah mentitikkan mungkin kata2 'salah-masuk-jurusan'
bahkan mungkin sampai yang sudah lulus pun mungkin ada kalanya ketika bekerja tapi masih mampu menyuarakan 'salah-masuk-jurusan'
dalam tindak lanjut dari kata2 'salah-masuk-jurusan' tsb bisa terjadi bayak option.
option pertama : Pindah jurusan. pindah fakultas dan mengulang lagi semuanya dari nol.
option kedua: menyelesaikan jurusan 'salah' itu walaupun setengah mati dan setelah lulus mengambil jurusan yang diinginkan (kasus ini biasanya terjadi ketika seseorang yang merasa 'salah' itu masuk jurusan yang tidak dikehendaki (baca:disuruh ortu etc))
option ketiga : drop out
option keempat : dan lain2 bisa jadi berandalan di lingkungannya, jadi mahasiswa abadi, jadi yah apapun
dan option kelima
ya, option kelima..
biasanya orang meletakkan kata2 'dan lain lain' itu di pilihan terakhir namun karena saya ingin langsung melanjutkan kata-kata pada isi dari option kelima saya memutuskan untuk meletakkan 'dan lain-lain' tidak pada bagian terakhir.
So, ya, option kelima itu pilihan saya pada saat ini.
option kedua jelas bukan sama sekali karena jurusan ini saya pilih dengan sepenuh kesadaran dan hati saya.
pikiran 'salah-masuk-jurusan' ini juga pernah saya lecehkan karena terkadang saya terlalu percaya diri di jurusan yang saya pilih dan orang-orang yang menyuarakan pikiran ini menurut saya tidak dewasa karena kenapa kok mereka tidak dewasa dalam memilih masa depan mereka dan sebagainya.
Namun, yah, apa boleh buat akhirya saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri.
pikiran 'salah-masuk-jurusan' akhirnya datang kepada saya.
semester 5.
dan saya bimbang akan masa depan saya.
Apakah saya sungguh cocok di jurusan ini.
apakah saya bisa berkembang dan impian saya bisa tercapai di jurusan ini.
ah, maaf terlalu banyak intermezzo sehingga option kelima belum saya beri tau.
option kelima saya yaitu berserah,terus maju,nikmati dan berusaha berpikiran optimis.
cliche.
tapi menurut saya yaa, itu yang paling pas lah.
saya bimbang karena menemukan sedikit kesulitan teknis.
kalau saya menyerah dan berbelok suatu saat saya akan menemukan kesulitan lagi dan berbelok lagi bertemu lagi dan berbelok lagi sehingga akhrinya saya akan membuat sendiri suatu labirin kehidupan saya sendiri dan bisa-bisa tersesat di dalamnya.
Mungkin itu perwujudan dari 'hidup susah ngapain dibikin susah lagi?'
'Kalo bisa lurus kenapa harus belok?'
jadi, yak saya hanya akan mencoba untuk bertahan dan terus mencoba berjalan lurus, tembus gunungnya jangan hanya memutari atau bahkan berbalik arah!